Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Tuesday, October 27, 2015

Masih

Night changes, feelings change, people change, but the love ever given can't even deny.

Masih berfikir semua baik-baik saja?
Bagaimanapun, semua memang baik-baik saja.

Masih.



Masih saja bersandiwara, perihal salah satu atau dua-duanya. Saling berlomba untuk terlihat biasa saja. Hingga suatu saat saling bertemu, tak mampu untuk mengenalinya.

Dan itulah pemenangnya.

Wednesday, September 23, 2015

It's Been A Year


“Years of love have been forgot, In the hatred of a minute.”  Eddgar Alan Poe said, on his book,  The Complete Stories.



Deep meaning, isn't it?
It's all about a love that just lost.
Some people come in our life as blessings, others come in our life as lessons.
Some people come just want to 'taste' happiness, when they're feel quite satisfied, they'll gone.
Gone like monsoon wind.
No, no. like monsoon wind that never ever comeback because transformed into another form of wind in their cycle.

Thursday, June 18, 2015

Kisah Tak Biasa dari Sebuah Perpisahan


Tahukah kamu apa yang aku takutkan dari semua pertemuan?
Sebuah perpisahan.

Bukan pertama kali mengalami, bukan pula berkali-kali
Hanya pantas aku mengatakan, ah... aku kehilangan lagi, untuk kesekian kali
Rasanya seperti sudah biasa
Tapi sesungguhnya aku yang terlalu memaksa untuk biasa saja
Pasti ada perasaan hampa, kosong, bahkan tanpa jeda, seperti ada yang pergi

Biarkan aku suguhkan kisah tak biasa dariku dari sebuah perpisahan

Sunday, November 23, 2014

Bias Rasa Untuk Kamu, dan Tuhan

Aku bersyukur pada Tuhan yang membawahi semesta, kamu ada
Lalu bertemu dalam ruang yang sama
Muncul dalam hariku meski dengan jeda
Selalu dapat memanggil senyuman simpul di antara lara

Aku tidak perlu bertanya mengapa baru datang sekarang
Karena itu lintasan kita, memang
Tak perlu pula bertanya apa akhirnya aku nanti akan lekang
Tergantikan cahaya yang lebih terang

Tapi,
Demi mata yang saling berbicara
Demi bahu yang saling bersebelahan
Demi rasa yang kian berpendar

Aku bersyukur demi apapun, Tuhan melukiskan kita tersenyum bahagia
Entah di kanvas yang sama, atau tidak.


23 November 2014

Friday, October 31, 2014

Kepada Sang Malam

Ingin ku buang jauh perasaan yang menghapiriku malam itu
Menyelubung hati tanpa ketukan, tanpa salam
Tak ada angin tak ada hujan, malam pun masih mengusir raja siang
Rasa itu membekapku secepat laju sang pemburu angin

Aku menikmatinya, aku membiarkannya, aku berharap rasa itu tetap ada
Tapi rasa itu bisa membunuhku
Mencekiku kala aku masih bergelut dengan mimpi
Tak apa, bunuh saja aku
Harapku hanya satu, pencipta rasa itu

Apa daya, aku bukan siapa-siapa
Bukan anak dewa bukan anak raja
Hanya gadis yang memandangnya dari kejauhan
Tersenyum lebar layaknya orang gila

Kepada sang malam,
Wahai sang malam yang mengusir temaram
Layakkah aku berada di sampingnya?
Layakkah aku mengusap peluh di keningnya?
Layakkah aku menjadi orang yang akan ia teteskan air mata?

Kepada sang malam,
Aku menuntut pertanggungjawaban
Engkau mempertemukan aku denganya dalam senyap
Legam, hanya ada titik-titik lampu malam serupa kunang-kunang
Mungkin saja, rasa itu datang bersama lentera malam

Menyerangku, menyergapku,
Membuatku tak berdaya
Membuatku tanpa kata

Kepada sang malam,
Wahai sang malam, pertemukanku dengannya saja, aku sudah senang.

source: here















31 Oktober 2014

Thursday, October 30, 2014

Kertas Lusuh yang Terhiraukan

Coba bayangkan siapa yang akan memanjat rumah orang, demi menggapai salah-satu jendelanya?
Kemudian memasukkan tangannya
Demi memuaskan keingintahuannya.

Ya, aku.

Kutemukan dua kotak obat batuk
Kutemukan sebuah benda merah marun
Kutemukan pula buku-buku yang sengaja ditinggal dengan terbuka
Dan kutahu milik siapa

Itu milik seseorang yang kukirimi pesan 
Dalam selembar kertas yang sengaja kulusuhkan
Jatuh di antara dinding dan kasur hijau setelah kulemparkan
Entah seseorang itu menghiraukan
Atau bahkan membuang layaknya kaca yang tlah menjadi serpihan.

source: flickr
















30 Oktober 2014

Thursday, August 21, 2014

Tentang Mata

Not mine.
Jangan begitu, bisikan itu seolah membelenggu
Melihat sosokmu berjalan ke arahku
Aku tidak melakukan dosa terhadapmu, ataupun mengkhianatimu
Ada satu hal yang harus ku mengaku
Mataku tidak akan pernah mau bertemu dengan matamu

Thursday, July 17, 2014

Yang Tertinggal

Source: here
Hampir setiap malam kuberharap,
Suatu saat, lampu tidurku menjelma menjadi bulan
Menerangi milyaran jiwa yang berkeliaran mencari kedamaian
Serta menjadi satu-satunya kawan berburu sang burung hantu
Dan yang paling penting,
Melesatlah probabilitas aku dan kamu,
Memandang ke objek yang sama suatu malam dalam satu waktu

Monday, July 14, 2014

Aku, Kau.

Source: here | Edited
Aku curiga
Jangan-jangan matamu mengandung semacam gravitasi
Sejauh apa aku memandang
Dua matamu selalu mengurungku dalam tiga langkah terpaut

Bisa dikatakan kita dekat
Aku, kau, benar-benar dekat
Tapi tidak dengan hati
Jauh.
Ja uh.
J-a-u-h.

Saturday, July 5, 2014

8:08

Source: here
Bila dapat memilih pasti banyak yang ingin memperbaiki sedikit potongan masa lalu
Bukan, bukan berarti ingin mengulang waktu
Tidak ada yang sanggup melawan kejamnya waktu
Hanya saja bila keadaan semakin memburuk
Sepasang manusia telah menjelelma layaknya dua orang asing--tak saling kenal

Klise, hah?

Wednesday, June 25, 2014

Sebuah Jawaban

Source: here | Edited by me:)
Tersadar dari lamunanku saat suara hujan kembali menderu
Membuat daratan di depanku memuat ribuan rintik lalu membaur dedaunan
Seketika hati ini menjeritkan sebuah pertanyaan
Dan tak ada satupun yang menggenggam jawaban
Semesta pun tidak

Friday, June 20, 2014

Inilah harimu, Dua Puluh Juni!


Taken 20nd June 2014
Udara pagi menyergap memaksa untuk menyelubungi paru-paru
Sekarang tanggal dua puluh Juni, lantas?
Memang tak ada yang istimewa buatku
Namun sangat istimewa buat dia
Ya, dia... 
Dia yang sedang kucoba untuk mendeskripsikannya dengan kata-kata

Saturday, June 7, 2014

Why Don't You Hear?

Source: here | Edited by me:)
Wind blows from west, hits your gloomy face
Moving your black light hair
You, sit quietly with your handphone on, hearing your favorite song
You ignore anything, include the whining noise of train
Your eyes just stucks on something dark behind
Yes, you've been enslaved by the past